Idealis dalam pendidikan merupakan hal yang
penting, namun idealis juga tidak bisa dilakukan secara semena-mena karena
apaun yang kita lakukan harus sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Namun
jika memeng masih bisa diterapkan tentu saja idealis harus tetap dilaksanakan.
Seperti seorang pelajar, tugas utama mereka adalah belajar namun tentu saja
,mereka juga ingin bermain dan bergaul dengan teman sebayanya. Itu semua boleh
dilakukan asalkan dengan porsi yang pas, jika tidak maka tugas utama yaitu
belajar akan terkesampingkan. Idealisme adalah aliran filsafat yang menganggap bahwa pengetahuan adalah sesuatu yang muncul dan
terlahir dari kejadian di dalam
jiwa manusia. Kejadian tersebut bersumber dari transendensi kesadaran. Kenyataan dan pengenalan atas realitas
terletak di luar konsepsi idealisme. Konsentrasi idealisme tertuju pada
afirmasi terhadap ontologi kesadaran dan problem yang muncul di dalamnya.
Konsep filsafat menurut aliran idealisme terdiri dari metafisika-idealisme,
humanologi-idealisme, epistemologi-idealisme, dan aksiologi-idealisme.
Dalam konteks filsafat pendidikan, idealisme
memberi sumbangsih yang besar. Kaum idealis percaya bahwa manusia merupakan
bagian dari alam spiritual kesadaran. Setiap individu berkesadaran mempunyai
potensi spiritual dan transendensi. Konsekuensinya, pendidikan dituntut dapat
memperkenalkan konsep spiritual dan transendensi dalam kehidupan manusia.
Pendidikan harus menenkankan kesesuaian batin antara manusia dengan alam
semesta. Pendidikan merupakan pejalanan menuju pribadi manusia yang ideal.
Pendidikan harus berorientasi pada tujuan, bukan hanya sebagai alat untuk mencapai
tujuan. Idealisme mengimpikan terciptanya manusia dengan watak terbaik.
Pragmatisme merupakan aliran filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar
adalah segala sesuatu yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan melihat
kepada akibat-akibat atau hasilnya yang bermanfaat secara praktis. Kebenaran objektif dari pengetahuan bukan sesuatu yang dianggappenting,
namun bagaimana kegunaan praktis
dari pengetahuan kepada individu-individu lah
yang lebih penting. Dasar pragmatisme adalah logika pengamatan. Apa yang ditampilkan pada manusia dalam
dunia nyata merupakan fakta-fakta individual, konkret, dan terpisah satu sama
lain. Dunia ditampilkan apa adanya dan perbedaan diterima begitu saja. Pragmatisme tidak mau terjebak dalam kalimat-kalimat
metafisika. Ide menjadi benar ketika memiliki fungsi pelayanan dan kegunaan.
Pragmatisme menggagas
konsep pendidikan menjadi tiga, yaitu: konsep realitas, konsep pengetahuan, dan
konsep nilai. Konsep realitas menyatakan bahwa, manusia sebagai makhluk fisik
yang selalu mengalami perubahan dan perkembangan akan menyesuaikan dirinya
dengan perubahan dan perkembangan realitas. Konsep pengetahuan menyatakan
bahwa, tujuan berpikir adalah kemajuan hidup. Akal pikiran selalu aktif untuk
mencari kebenaran yang terkandung dalam pengetahuan. Pengetahuan yang dianggap
benar adalah pengetauan yan bermanfaat. Sementara konsep nilai menyatakan bahwa
nilai merupakan suatu realitas dalam kehidupan yang dapat dimengerti sebagai
wujud perilaku manusia. Nilai
dianggap bersifat relatif. Suatu
perilaku, pengetahuan, nilai, dan ide
dikatakan benar bila mengandung kebaikan dan bermanfaat bagi manusia.
Pragmatisme pendidikan
diorientasikan pada teori problem
solving yang terdiri dari
lima langkah: 1) Merasakan adanya masalah. 2) Menganalisis masalah dan menyusun
hipotesis-hipotesis yang mungkin. 3) Mengumpulkan data untuk memperjelas
masalah. 4) Memilih dan menganalisis hipotesis. 5) Menguji, mencoba, dan
membuktikan hipotesis dengan melakukan eksperimen. Dengan demikian, pragmatisme
pendidikan selalu memuat tujuan praktis yang mengandung kebermanfaat dan nilai
guna pagi kehidupan. Segalanya yang tidak mengandung nilai guna disingkirkan
dan dianggap tidak layak digolongkan dalam kurikulum pendidikan.
Tujuan filsafat pendidikan memberikan inspirasi
bagaimana mengorganisasikan proses pembelajaran yang ideal. Teori pendidikan
bertujuan menghasilkan pemikiran tentang kebijakan dan prinsip-rinsip
pendidikan yang didasari oleh filsafat pendidikan. Praktik pendidikan atau
proses pendidikan menerapkan serangkaian kegiatan berupa implementasi kurikulum
dan interaksi antara guru dengan peserta didik guna mencapai tujuan pendidikan
dengan menggunakan rambu-rambu dari teori-teori pendidikan. Peranan filsafat
pendidikan memberikan inspirasi, yakni menyatakan tujuan pendidikan negara bagi
masyarakat, memberikan arah yang jelas dan tepat dengan mengajukan pertanyaan
tentang kebijakan pendidikan dan praktik di lapangan dengan menggunakan
rambu-rambu dari teori pendidik. Seorang guru perlu menguasai konsep-konsep
yang akan dikaji serta pedagogi atau ilmu dan seni mengajar materi subyek
terkait, agar tidak terjadi salah konsep atau miskonsepsi pada diri peserta
didik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar