Selasa, 15 Januari 2013

PENDIDIKAN DAN FILSAFAT


Idealis dalam pendidikan merupakan hal yang penting, namun idealis juga tidak bisa dilakukan secara semena-mena karena apaun yang kita lakukan harus sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Namun jika memeng masih bisa diterapkan tentu saja idealis harus tetap dilaksanakan. Seperti seorang pelajar, tugas utama mereka adalah belajar namun tentu saja ,mereka juga ingin bermain dan bergaul dengan teman sebayanya. Itu semua boleh dilakukan asalkan dengan porsi yang pas, jika tidak maka tugas utama yaitu belajar akan terkesampingkan. Idealisme adalah aliran filsafat yang menganggap bahwa pengetahuan adalah sesuatu yang muncul dan terlahir dari kejadian di dalam jiwa manusia. Kejadian tersebut bersumber dari transendensi kesadaran. Kenyataan dan pengenalan atas realitas terletak di luar konsepsi idealisme. Konsentrasi idealisme tertuju pada afirmasi terhadap ontologi kesadaran dan problem yang muncul di dalamnya. Konsep filsafat menurut aliran idealisme terdiri dari metafisika-idealisme, humanologi-idealisme, epistemologi-idealisme, dan aksiologi-idealisme.
Dalam konteks filsafat pendidikan, idealisme memberi sumbangsih yang besar. Kaum idealis percaya bahwa manusia merupakan bagian dari alam spiritual kesadaran. Setiap individu berkesadaran mempunyai potensi spiritual dan transendensi. Konsekuensinya, pendidikan dituntut dapat memperkenalkan konsep spiritual dan transendensi dalam kehidupan manusia. Pendidikan harus menenkankan kesesuaian batin antara manusia dengan alam semesta. Pendidikan merupakan pejalanan menuju pribadi manusia yang ideal. Pendidikan harus berorientasi pada tujuan, bukan hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan. Idealisme mengimpikan terciptanya manusia dengan watak terbaik.
Pragmatisme merupakan aliran filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar adalah segala sesuatu yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan melihat kepada akibat-akibat atau hasilnya yang bermanfaat secara praktis. Kebenaran objektif dari pengetahuan bukan sesuatu yang dianggappenting, namun bagaimana kegunaan praktis dari pengetahuan kepada individu-individu lah yang lebih penting. Dasar pragmatisme adalah logika pengamatan. Apa yang ditampilkan pada manusia dalam dunia nyata merupakan fakta-fakta individual, konkret, dan terpisah satu sama lain. Dunia ditampilkan apa adanya dan perbedaan diterima begitu saja. Pragmatisme tidak mau terjebak dalam kalimat-kalimat metafisika. Ide menjadi benar ketika memiliki fungsi pelayanan dan kegunaan.
Pragmatisme menggagas konsep pendidikan menjadi tiga, yaitu: konsep realitas, konsep pengetahuan, dan konsep nilai. Konsep realitas menyatakan bahwa, manusia sebagai makhluk fisik yang selalu mengalami perubahan dan perkembangan akan menyesuaikan dirinya dengan perubahan dan perkembangan realitas. Konsep pengetahuan menyatakan bahwa, tujuan berpikir adalah kemajuan hidup. Akal pikiran selalu aktif untuk mencari kebenaran yang terkandung dalam pengetahuan. Pengetahuan yang dianggap benar adalah pengetauan yan bermanfaat. Sementara konsep nilai menyatakan bahwa nilai merupakan suatu realitas dalam kehidupan yang dapat dimengerti sebagai wujud perilaku manusia. Nilai dianggap bersifat relatif. Suatu perilaku, pengetahuan, nilai, dan ide dikatakan benar bila mengandung kebaikan dan bermanfaat bagi manusia.
Pragmatisme pendidikan diorientasikan pada teori problem solving yang terdiri dari lima langkah: 1) Merasakan adanya masalah. 2) Menganalisis masalah dan menyusun hipotesis-hipotesis yang mungkin. 3) Mengumpulkan data untuk memperjelas masalah. 4) Memilih dan menganalisis hipotesis. 5) Menguji, mencoba, dan membuktikan hipotesis dengan melakukan eksperimen. Dengan demikian, pragmatisme pendidikan selalu memuat tujuan praktis yang mengandung kebermanfaat dan nilai guna pagi kehidupan. Segalanya yang tidak mengandung nilai guna disingkirkan dan dianggap tidak layak digolongkan dalam kurikulum pendidikan.
Tujuan filsafat pendidikan memberikan inspirasi bagaimana mengorganisasikan proses pembelajaran yang ideal. Teori pendidikan bertujuan menghasilkan pemikiran tentang kebijakan dan prinsip-rinsip pendidikan yang didasari oleh filsafat pendidikan. Praktik pendidikan atau proses pendidikan menerapkan serangkaian kegiatan berupa implementasi kurikulum dan interaksi antara guru dengan peserta didik guna mencapai tujuan pendidikan dengan menggunakan rambu-rambu dari teori-teori pendidikan. Peranan filsafat pendidikan memberikan inspirasi, yakni menyatakan tujuan pendidikan negara bagi masyarakat, memberikan arah yang jelas dan tepat dengan mengajukan pertanyaan tentang kebijakan pendidikan dan praktik di lapangan dengan menggunakan rambu-rambu dari teori pendidik. Seorang guru perlu menguasai konsep-konsep yang akan dikaji serta pedagogi atau ilmu dan seni mengajar materi subyek terkait, agar tidak terjadi salah konsep atau miskonsepsi pada diri peserta didik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar