Dalam
foto-foto yang ditunjukkan Pak Marsigit, dapat saya lihat bahwa pembelajaran
yang dilakukan di salah satu Sekolah Dasar di Australia sangat berbeda dengan
pembelajaran yang di lakukan di Indonesia. Di sana pembelajaran yang
dilaksanakan adalah pembelajaran tematik. Salah satu Perguruan Tinggi di
Australia mengajak langsung mahasiswanya untuk melakukan praktik mengajar di
Sekolah Dasar tersebut. Praktik yang dilakukan seperti ketika mahasiswa PPL.
Diawali dengan dosen pembimbing yang datang lebih dulu untuk mengetahui keadaan
sekolah yang akan digunakan untuk pembelajaran mahasiswanya.
Ruangan
yang akan digunakan adalah perpustakaan sekolah. Perpustakaan sekolah di
Sekolah Dasar ini termasuk perpustakaan yang baik. Buku, meja, kursi, dan
perlengkapan lainnya ditata dengan rapi. Yang paling menarik adalah penataan
buku, buku disana ditata sesuai tema dan jenis buku, jadi buku diletakkan dalam
rak rak kecil yang bertuliskan tema dan jenis bukunya, sehingga siswa tidak
terlalu sulit untuk mencari buku yang diinginkan. Selain itu, di beberapa sudut
ruangan kita dapat menemukan kertas yang bertuliskan motivasi-motivasi yang
dapat meningkatkan minat siswa untuk membaca. Ini merupakan salah satu cara
memberikan pendidikan karakter kepada siswa sejak kecil.
Pendidikan
karakter dapat dikenalkan dengan cara memperkenalkan tokoh-tokoh dalam bidang
matematika seperti phytagoras. Dengan anak mengetahui tokoh tersebut diharapkan
dapat lebih menyenangi pelajaran matematika. Selain itu anak juga diperkenalkan
dengan buku-buku yang baru saja terbit dan buku-buku populer tahun ini. Hal ini
diharapkan keinginan siswa untuk membaca buku semakin tinggi atau dapat
membiasakan siswa untuk senang membaca buku.
Kembali
pada mahasiswa yang akan praktik disekolah ini, sebelum mereka melaksanakan
pembelajaran tentu saja mereka juga harus menyiapkan pemberangkat pembelajaran
salah satunya adalah Lesson Plan atau biasa kita sebut RPP (Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran). Dasar untuk membuat RPP adalah Jurnal Internasional dengan
pembelajaran tematik. Selin RPP mahasiswa juga harus mempersiapkan alat-alat
yang akan dibutuhkan dalam pembelajaran hari ini karena memang dalam
pembelajaran tematik dibutuhkan alat peraga yang tidak sedikit. Setelah semua
perangkat pembelajaran siap, mahasiswa dibagi kedalam kelompok kelompok kecil,
kemudian ditentukan siapa yang akan mengajar pada hari itu, sedangkan anggota
kelompok lain akan menjadi observer bersama dosen dan guru kelas.
Pembelajaran
pun dimulai, untuk melaksanakan pembelajaran tidak harus diruang kelas karena
beberapa tema pembelajaran mengaharuskan siswa untuk melakukan pembelajaran di
luar kelas bahkan ada yang melakukan pembelajaran di tangga sekolah. Dari foto
yang ditunjukkan Pak Marsigit dapat saya lihat bahwa pembelajaran dilakukan di
berbagai tempat seperti di ruang kelas, perpustakaan sekolah, halaman sekolah
dan ada pembelajaran dengan tema tertentu yaitu menerbangkan seperti
baling-baling yang dilakukan di tangga sekolah. Anak-anak terlihat sangat
antusias dalam melaksanakan pembelajaran.
Tema
yang diajarkan oleh setiap mahasiswa berbeda-beda sesuai dengan materi yang
disampaikan. Ketika pembelajaran berlangsung, mahasiswa lain dalam satu
kelompok bertugas mengobservasi jalannya pembelajaran. Selain mahasiswa dosen
dan guru kelas juga ikut mengobservasi, beberapa foto menampakkan dosen dan
guru sedang berdiskusi terkalit praktik yang sedang dilaksanakan oleh mahasiswa
yang sedang praktik. Agar setelah pembelajaran selesai dapat dilakukan refleksi.
Peran guru kelas dalam menjadi observer sangat penting karena yang mengetahui
karakteristik siswa adalah guru tersebut jadi ketika ada perubahab-perubahan
sikap yang dilakukan siswa maka akan dapat diketahui. Selain itu hasil dari
refleksi dapat digunakan sebagai acuan untuk mengajar pada pembelajaran
selanjutnya.
Salah
satu keunikan lain di Sekolah Dasar ini adalah ketika kita memasuki ruang kelas
maka dindingnya sangat penuh dengan karya-karya siswa terkalit dengan pelajaran
yang diberikan. Dengan memajang karya siswa, diharapkan siswa lebih antusias
dalam mengerjakan tugas yang diberikan guru karena apa yang mereka kerjakan
diberi reward yang bisa membuat mereka bangga akan hasil karya mereka sendiri.
Hasil karya dan pekerjaan siswa tersebut jika dijadikan satu maka disebut
portopolio. Selain karya siswa di dinding juga terdapat jadwal-jadwal terkait
pembelajaran dan ada juga peraturan peraturan yang harus ditaati siswa di
Sekolah. Peraturan lain yang nampak adalah peraturan berdiskusi, ini jika
merupakan salah satu dari pendidikan karakter, yaitu bagaimana sikap siswa
ketika berdiskusi agar mereka tidak sembarangan berdiskusi sehingga hasil dikusinya
dapat maksimal. Itulah beberapa hal yang dapat saya ketahui dari pembelaran
tematik di salah satu Sekolah Dasar yang di tunjukkan Pak Marsigit ketika
berkunjung ke Australia.
Selain
di Australia, ternyata Jepang juga melaksanakan pembelajaran tematik. Di sana
bukan mahasiswa yang melakukan pembelajaran tetapi dosen dari sebuah Perguruan
tinggi di sana atau mungkin guru kelas dan nanti peserta yang ingin melihat
pembelajaran dapat menyaksikan di pinggir ruangan. Nampaknya siswa tidak
terganggu dengan kehadiran para observer tersebut karena sudah terbiasa.
Pembelajaran tematik di Jepang juga tidak jauh berbeda dengan yang dilaksanakan
di Australia. Pengajar juga menggunakan alat peraga agar siswa dapat lebih
memahami pelajaran yang diberikan. Selain diruang kelas, praktik pembelajaran
ini juga dilaksanakan di gedung lain yang sangat besar karena ternyata banyak
guru-guru dari manacanegara yang ingin mengetahui bagaimana pembelajaran
tematik itu berlangsung. Rasa keingintahuan dan ingin belajar inilah yang harus
terus dikembangkan, karena dengan belajarlah pendidikan akan semkin berkembang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar