Selasa, 15 Januari 2013

Pembelajaran Tematik


Dalam foto-foto yang ditunjukkan Pak Marsigit, dapat saya lihat bahwa pembelajaran yang dilakukan di salah satu Sekolah Dasar di Australia sangat berbeda dengan pembelajaran yang di lakukan di Indonesia. Di sana pembelajaran yang dilaksanakan adalah pembelajaran tematik. Salah satu Perguruan Tinggi di Australia mengajak langsung mahasiswanya untuk melakukan praktik mengajar di Sekolah Dasar tersebut. Praktik yang dilakukan seperti ketika mahasiswa PPL. Diawali dengan dosen pembimbing yang datang lebih dulu untuk mengetahui keadaan sekolah yang akan digunakan untuk pembelajaran mahasiswanya.  
Ruangan yang akan digunakan adalah perpustakaan sekolah. Perpustakaan sekolah di Sekolah Dasar ini termasuk perpustakaan yang baik. Buku, meja, kursi, dan perlengkapan lainnya ditata dengan rapi. Yang paling menarik adalah penataan buku, buku disana ditata sesuai tema dan jenis buku, jadi buku diletakkan dalam rak rak kecil yang bertuliskan tema dan jenis bukunya, sehingga siswa tidak terlalu sulit untuk mencari buku yang diinginkan. Selain itu, di beberapa sudut ruangan kita dapat menemukan kertas yang bertuliskan motivasi-motivasi yang dapat meningkatkan minat siswa untuk membaca. Ini merupakan salah satu cara memberikan pendidikan karakter kepada siswa sejak kecil.
Pendidikan karakter dapat dikenalkan dengan cara memperkenalkan tokoh-tokoh dalam bidang matematika seperti phytagoras. Dengan anak mengetahui tokoh tersebut diharapkan dapat lebih menyenangi pelajaran matematika. Selain itu anak juga diperkenalkan dengan buku-buku yang baru saja terbit dan buku-buku populer tahun ini. Hal ini diharapkan keinginan siswa untuk membaca buku semakin tinggi atau dapat membiasakan siswa untuk senang membaca buku.
Kembali pada mahasiswa yang akan praktik disekolah ini, sebelum mereka melaksanakan pembelajaran tentu saja mereka juga harus menyiapkan pemberangkat pembelajaran salah satunya adalah Lesson Plan atau biasa kita sebut RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). Dasar untuk membuat RPP adalah Jurnal Internasional dengan pembelajaran tematik. Selin RPP mahasiswa juga harus mempersiapkan alat-alat yang akan dibutuhkan dalam pembelajaran hari ini karena memang dalam pembelajaran tematik dibutuhkan alat peraga yang tidak sedikit. Setelah semua perangkat pembelajaran siap, mahasiswa dibagi kedalam kelompok kelompok kecil, kemudian ditentukan siapa yang akan mengajar pada hari itu, sedangkan anggota kelompok lain akan menjadi observer bersama dosen dan guru kelas.
Pembelajaran pun dimulai, untuk melaksanakan pembelajaran tidak harus diruang kelas karena beberapa tema pembelajaran mengaharuskan siswa untuk melakukan pembelajaran di luar kelas bahkan ada yang melakukan pembelajaran di tangga sekolah. Dari foto yang ditunjukkan Pak Marsigit dapat saya lihat bahwa pembelajaran dilakukan di berbagai tempat seperti di ruang kelas, perpustakaan sekolah, halaman sekolah dan ada pembelajaran dengan tema tertentu yaitu menerbangkan seperti baling-baling yang dilakukan di tangga sekolah. Anak-anak terlihat sangat antusias dalam melaksanakan pembelajaran.
Tema yang diajarkan oleh setiap mahasiswa berbeda-beda sesuai dengan materi yang disampaikan. Ketika pembelajaran berlangsung, mahasiswa lain dalam satu kelompok bertugas mengobservasi jalannya pembelajaran. Selain mahasiswa dosen dan guru kelas juga ikut mengobservasi, beberapa foto menampakkan dosen dan guru sedang berdiskusi terkalit praktik yang sedang dilaksanakan oleh mahasiswa yang sedang praktik. Agar setelah pembelajaran selesai dapat dilakukan refleksi. Peran guru kelas dalam menjadi observer sangat penting karena yang mengetahui karakteristik siswa adalah guru tersebut jadi ketika ada perubahab-perubahan sikap yang dilakukan siswa maka akan dapat diketahui. Selain itu hasil dari refleksi dapat digunakan sebagai acuan untuk mengajar pada pembelajaran selanjutnya.
Salah satu keunikan lain di Sekolah Dasar ini adalah ketika kita memasuki ruang kelas maka dindingnya sangat penuh dengan karya-karya siswa terkalit dengan pelajaran yang diberikan. Dengan memajang karya siswa, diharapkan siswa lebih antusias dalam mengerjakan tugas yang diberikan guru karena apa yang mereka kerjakan diberi reward yang bisa membuat mereka bangga akan hasil karya mereka sendiri. Hasil karya dan pekerjaan siswa tersebut jika dijadikan satu maka disebut portopolio. Selain karya siswa di dinding juga terdapat jadwal-jadwal terkait pembelajaran dan ada juga peraturan peraturan yang harus ditaati siswa di Sekolah. Peraturan lain yang nampak adalah peraturan berdiskusi, ini jika merupakan salah satu dari pendidikan karakter, yaitu bagaimana sikap siswa ketika berdiskusi agar mereka tidak sembarangan berdiskusi sehingga hasil dikusinya dapat maksimal. Itulah beberapa hal yang dapat saya ketahui dari pembelaran tematik di salah satu Sekolah Dasar yang di tunjukkan Pak Marsigit ketika berkunjung ke Australia.
Selain di Australia, ternyata Jepang juga melaksanakan pembelajaran tematik. Di sana bukan mahasiswa yang melakukan pembelajaran tetapi dosen dari sebuah Perguruan tinggi di sana atau mungkin guru kelas dan nanti peserta yang ingin melihat pembelajaran dapat menyaksikan di pinggir ruangan. Nampaknya siswa tidak terganggu dengan kehadiran para observer tersebut karena sudah terbiasa. Pembelajaran tematik di Jepang juga tidak jauh berbeda dengan yang dilaksanakan di Australia. Pengajar juga menggunakan alat peraga agar siswa dapat lebih memahami pelajaran yang diberikan. Selain diruang kelas, praktik pembelajaran ini juga dilaksanakan di gedung lain yang sangat besar karena ternyata banyak guru-guru dari manacanegara yang ingin mengetahui bagaimana pembelajaran tematik itu berlangsung. Rasa keingintahuan dan ingin belajar inilah yang harus terus dikembangkan, karena dengan belajarlah pendidikan akan semkin berkembang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar