Selasa, 15 Januari 2013

FILSAFAT ADALAH SEMUA ASPEK KEHIDUPAN (KESIMPULAN BERFILSAFAT)


Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak pernah ngomong tentang berfikir tapi otomatis kita selalu berpikir. Kita tidak perlu tiap hari berbicara tentang filsafat tapi tiap hari kita berfilsafat. Kita tidak perlu tiap hari berbicara tentang doa tapi tiap hari kita berdoa. Kegiatan kegitan seperti itu memang sudah kita lakukan tanpa harus berfikir lagi kalau kita melakukan itu.
Baik buruknya berfikir filsafat tergantung dari spiritual. Karena ketika kita pemikiran dan hati kita terdapat sinkronisani, maka kita akan dapat lebih baik dalam menentukan sikap. Dalam sehari hari kadang terdapat penyakit yang mungkin timbul, misal penyakit hati. Penyakit hati ini dapat disembuhkan dengan berdoa, yaitu adanya interaksi dengan Tuhan. Nah, kalau dalam berfilsafat, penyakit dalam berfilsafat dapat diobati dengan berinteraksi dengan yang ada dan yang mungkin ada. Segala penyakit itu pasti ada obatnya, dan untuk mencapai kesembuhan selain butuh obat kita juga harus benar menyikapinya.Berfilsafat itu berarti berpikir, tapi berpikir itu tidak berarti berfilsafat. Hal ini disebabkan oleh berfilsafat berarti berpikir artinya dengan bermakna dalam arti berpikir itu ada manfaat, makna, dan tujuannya, sehingga mudah untuk direalisasikan dari berpikir itu karena sudah ada acuan dan tujuan yang pasti/sudah ada planning dan contohnya, dan yang paling utama hasil dari berpikir itu bermanfaat bagi orang banyak, tapi berpikir tidak berarti berfilsafat, karena isi dari berpikir itu belum tentu bermakna atau mempunyai tujuan yang jelas atau mungkin hanya khayalan saja.
Bersfikir filsafat itu adalah berfikir reflektif. Berfikir ilmiah belum tentu berfikir filsifat. Namun berfikir filsafat itu meliputi pemikiran yang ilmiah, bahkan pemikiran orang awam pun juga merupakan pemikiran yang filsafat. Agar tidak bimbang dalam berfikir kita harus sering berdoa dan mengingat Tuhan, jika bimbang dalam hati maka berhentilah berfikir dan berdoalah, namun ketika bimbang dalam berfilsafat maka berfikirlah lebih jauh. Kemampuan berfikir paling tinggi dalam filsafat adalah ketika seseorang mampu mengambil keputusan. Gunanya berfilsafat itu adalah pengalaman kita itu dipikirkan, dalam berfilsafat pemikiran yang ada untuk direfleksikan dalam pengalaman, dan pengalaman yang ada untuk direfleksikan. Namun belum tentu semua orang mampu berfikir dan merefleksikan dalam tindakan. Padahal merefleksikan pengalaman dalam pikiran merupakan hal yang penting.
Dalam setiap kegiatan Merenung dalam berfilsafat jika diartikan dalam kehidupan sehari-hari seperti berkaca, apapun yang kita lakukan sesungguhnya kita sedang merenung. Ketika kita membaca, menulis, dan beraktifitas kita sedang merenung. Setinggi tinggi kita merenung refleksi kita tidak akam mampu mengungkapkannya secara menyeluruh. Berdoa itu juga merenung. Dalam berfilsafat kita sering menembus ruang dan waktu, misalnya tidur itu juga menembus ruang dan waktu karena kita sudah bertambah usia, bertambah usia merupakan salah satu bentuk ruang dan waktu.
Amarah itu merupakan hal ada dan hal yang mungkin ada, amarah ada diluar dan didalam hati dan fikiran kita. Namun kita harus bisa membedakan amarah yang ada di dalam hati dan fikiran. Amarahlah didalam hati karena Tuhanmu. Misal ada yang menghina nabi, kita wajib untuk marah tentu saja. Semua yang ada dalam kehidupan punya tata cara tersendiri, punya peraturan sendiri, agar duduk persoalnya jelas. Karena jika semua punya aturan maka hidup akan terarah. Namun terkadang banyak orang mengabaikan hal itu, mengabaikan tata cara yang ada, hingga hidup nampak tak punya aturan, terlihat berantakan, carut marut, dan kurang terarah. Mentaati tata cara butuh kesadaran diri, kesadaran untuk selalu taat peraturan. Seperti Negara kita yang punya tata cara, seperti pancasila yang punya adab, yaitu di sila ke-2 yaitu Kemanusiaan yang adil dan beradab. Setiap manusia sebenarnya bisa menciptakan tata cara sendiri dalam kehidupannya, misalnya ketika kita mengajar, pasti kita juga punya aturan tersendiri untuk murid kita, agar murid kita menjadi terarah dan sesuai apa yang kita inginkan.
Dalam kehidupan kita harus senantiasa berusaha dan berdoa, kalo kita hanya berdoa atau hanya berusaha saja maka apa yang kita inginkan belum tentu tercapai. Tuhan berfirman bahwa tidak akan merubah kedaan suatu kaum jika kaum itu tidak mengubah nasibnya. Semua yang ada dibumi ini butuh keseimbangan. Doa ibarat putaran dalam diri kita dan dan ikhtiar merupakan putaran yang ada dalam diri kita. Maka apapun itu berusahalah, berdoa, dan berikhtiar. Gunanya berfilsafat itu adalah pengalaman kita itu dipikirkan, dalam berfilsafat pemikiran yang ada untuk direfleksikan dalam pengalaman, dan pengalaman yang ada untuk direfleksikan. Namun belum tentu semua orang mampu berfikir dan merefleksikan dalam tindakan. Padahal merefleksikan pengalaman dalam pikiran merupakan hal yang penting.
Salah satu gaya hidup yang banyak berkembang adalah hedonism. Hedonism adalah gaya hidup yang serba glamour, mewah, lux, sudah banyak diburu oleh pencari kenikmataan sesaat. Segala yang dimiliki akan dikorbankan demi nafsu yang terus menggelora. Bagi mereka, dunia adalah segalanya. Sedangkan akhirat hanyalah impian kosong yang menjadi racun kenikmatan dunia. Inilah fenomena yang sangat menjamur di tengah-tegah panasnya kehidupan. Paham hedonisme sendiri berarti suatu pemikiran yang menjadikan tujuan hidupnya adalah kesenangan materi. Kesenangan yang memuaskan jiwa dan batin setiap manusia. Epicurus berpendapat bahwa kenikmatan materi adalah tujuan utama dalam hidup. Filsafatnya menitikberatkan pada etika yang memberikan ketenangan batin. Hedone (kenikmatan atau kesenangan) diperoleh dengan memuaskan keinginannya. Manusia harus bisa memilih keinginannya agar dapat mencapai kepuasan yang mendalam. Hedonisme yang hanya mencari kenikmatan materi demi kepuasan jiwa tidaklah sempurna sampai seseorang terjauh dari kehidupan spiritual yang dianggap mengekang manusias.
Filosof Aristippus mengatakan bahwa kesenangan merupakan rasa dari watak yang lemah lembut dan tujuan kehidupan yang sebenarnya. Semua kesenangan nilainya sama akan tetapi berbeda dalam tingkat lamanya. Sebenarnya, tokoh-tokoh filsafat yang mendukung hedonisme tidak sedikit. Akan tetapi, mereka berdualah yang paling vokal dalam menyampaikan ide-ide hedonisme sehingga menyebar ke seluruh penjuru dunia. Inti dari pemikiran mereka adalah kenikmatan yang menjadi tujuan sejati dari kehidupan manusia. Kenikmatan tersebut haruslah membawa kepuasan jiwa dan batin seseorang. Tidak peduli apakah kenikmatan itu bertentangan dengan nilai-nilai moral dan agama atau tidak, yang pasti kenikmatan adalah segala-galanya.
Akar dari filsafat ini adalah keadaan setiap manusia yang memiliki nafsu dan penilaian mereka bahwa manusia adalah homo ludens (makhluk yang senantiasa bermain-main). Setiap manusia yang hidup dikaruniai nafsu. Nafsu itulah yang mendorong manusia untuk mencapai kepuasan. Dengan kata lain, keinginan manusia untuk mencapai kepuasan adalah hal yang wajar karena hal ini sudah menjadi bagian dari kehidupan. Menurut paham hedonisme, keberadaan nafsu tidak bisa dikendalikan dengan cara apapun. Oleh karena itu, menghalalkan segala cara untuk memuaskan nafsu adalah cara yang sah.
Jadi hedonisme tidak hanya sebuah gaya hidup yang serba bebas, melainkan sebagai pemikiran dan kepercayaan yang tentunya berakhir pada kehancuran nilai-nilai agama. Kesenangan yang ditawarkan dalam budaya hedonisme tidak lain bersifat fana dan menipu. Apa yang kini dianggap modern belum tentu berbuah baik bagi kehidupan manusia. Narkoba, seks bebas, musik, korupsi, dan lain sebagainya adalah bagian dari beberapa tindak kriminal yang dilakukan karena hanya ingin mencari kenikmatan dan kesenangan. Hedonisme selalu berakibat buruk bagi kehidupan manusia. Aspek aqidah, prilaku, sistem ekonomi, politik, sosial, dan kesehatan, akan menjadi hancur dan kacau akibat dampak dari gaya hidup yang egois ini. Jadi hiduplah dengan gaya hidup yang benar, aqidah yang benar, dan yakin bahwa sesuatu yang nampaknya menyenangkan terkadang bukanlah hal yang benar.
Banyak tokoh filsafat yang mempunyai pendapat yang berbeda-beda pula. Sebagaimana Sokrates, ia menggunakan metode dialog untuk mengantarkan falsafatnya. Namun, kebenaran umum (definisi) menurutnya bukan dibuat dengan cara dialog yang induktif sebagaimana metode yang digunakan Sokrates. Pengertian umum (definisi) menurut Plato sudah tersedia di alam idea.
Menurut pemikiran falsafahnya, dunia lahir adalah dunia pengalaman yang selalu berubah-ubah dan berwarna-warni. Semua itu adalah bayangan daria dunia idea. Sebagai bayangan, hakikatnya hanyalah tiruan merupakan tiruan dari yang asli, yaitu idea. Oleh karena itu, dunia pengalman ini berubah-ubah dan bermacam-macam, sebab hanyalah merupakan tiruan yang tidak sempurna dari idea yang sifatnya bagi dunia pengalaman.
Barang-barang yang ada di dunia ini semua ada contohnya yang ideal di dunia idea. Keadaan idea bertingkat-tingkat. Tingkat idea yang tertinggi adalah idea kebaikan, di bawahnya idea jiwa dunia, yang menggerakkan dunia.
Berikutnya dunia keindahan yang menimbulkan seni, ilmu, pendidikan, politik. plato dinobatkan sebagai pemikir idealisme karena seluruh filsafatnya bertumpu pada dunia ide. Plato percaya bahwa ide adalah realita yang sebenarnya dari segala sesuatu yang ada dan dapat dikenal oleh panca indera. Karena ide adalah realitas yang sebenarnya atau keberadaan ada yang sesungguhnya, maka bagi Plato ide bukanlah sekedar gagasan atau gambaran yang berada hampir di dalam pemikiran manuisa. 
Keberadaan idea tidak tampak dalam wujud lahiriah, tetapi gambaran yang asli hanya dapat dipotret oleh jiwa murni. Alam dalam pandangan idealisme adalah gambaran dari dunia idea, sebab posisinya tidak menetap. Sedangkan yang dimaksud dengan idea adalah hakikat murni dan asli. Keberadaannya sangat absolut dan kesempurnaannya sangat mutlak, tidak bisa dijangkau oleh material.
Pada kenyataannya, idea digambarkan dengan dunia yang tidak berbentuk demikian jiwa bertempat di dalam dunia yang tidak bertubuh yang dikatakan dunia idea. Menurut Plato esensi itu mempunyai realitas di alam idea itu sendiri, ini memperkuat pendapat gurunya Socrates. Lewat karangan mitosnya di dalam dialog “Politeia” menjelaskan bahwa gua adalah dunia yang dapat ditangkap oleh indera. Kebanyakan orang menjadi terbelenggu dan menerima pengalaman spontan begitu saja. Namun ada beberapa orang memperkirakan bahwa realitas inderawi hanyalah bayangan; mereka adalah filosof.
Untuk mencapai kebenaran yang sebenarnya manusia harus mampu melepaskan diri dari pengaruh indera yang menyesatkan, bahkan filosof pun tidak akan dipercayai orang. Contoh. Melalui akal budi, ide pohon itu dapat dipahami, sedang melakukan kesaksian indera, terdapat bermacam-macam jenis dan bentuk pohon. Di dunia ide, hanya dikenal ide tentang pohon (satu dan tetap), tetapi di dunia realitas terdapat perbedaan, perubahan dan perkembangan bermacam-macam jenis pohon. Demikian juga dengan manusia. Dalm dunia jasmani, dikenla bermacam-macam jenis manusia, tetapi di dunia ide hanya ada satu, yaitu ide tentang manusia. Manusia sebagai makhluk jasmani, pasti akan mati, dan karena itu musnah. Tetapi di dalm ide manusia akan tetap abadi.

Dalam berfilsafat kita juga mengenal rumah epoke. Rumah Epoke adalah adalah rumah bagi apapun yang tidak engkau pikirkan. Apa yang tidak terpikirkan, apa yang tidak ada dipikiran kita, dan apa yang tidak pernah kita pikirkan maka letaknya di rumah epoke. Dalam kita memikirkan sesuatu, apa yang tiba-tiba terlintas meskipun itu belum paernah kita pikirkan maka tidak bias kita masukkan kedalam rumah epoke. Apa yang kita menghambat, apa yang memperlambat, apa yang membuat kita lemah harusnya kita masukkan kedalam rumah epoke. Syaiton yang selalu membisiki kita dengan hal-hal yang buruk juga harus kita masukkan kedalam rumah epoke.
Dalam kehidupan spiritual itu adalah dimensi yang paling tinggi, dan akan diturunkan menjadi normatif, seperti penggunaan epoke dalam matematika. Dalam membangun gunung ilmu kita harus membangun gunung-gunung lain yang ada disekitar kita, agar gunung yang ilmu kita menjadi kokoh. Contoh pengunaan epoke dalam matematika, misalnya 5 biru ditambah 6 kuning jadilah 11 jingga, atau 8 kurus ditambah 8 gemuk sama dengan 16 biasa. Tidak begitu seharusnya dalam perhitungan. Dalam matematika sifat, warna, aroma suatu benda tidak disebutkan. Misal lagi aku tadi ketemu bilangan 2 dengan baunya harum, mungkin maksudnya bertemu dengan 2 orang yang baunya harum. Dalam memcarakan bilangan kita hanya melihat banyaknya sajam warna, sifat, dan aroma yang ada masukkanlah kedalam rumah epoke. Misal lagi 2 lebih besar dari 7, mungkin itu hanya tentang ukuran ketika menulis, tetapi dalam matematika sesungguhnya 7 lebih besar daripada 2, maka bahan dalam bilangan juga harus dimasukkan kedalam rumah epoke.
Misal lagi dalam bentuk matematika, aku mempunyai segitiga berumur 2 hari karena kitamembuatnya 2 hari yang lalu, tetapi sifat-sifat seperti itu dimasukkan saja kerumah epoke karena dalam pembelajaran hal-hal tidak digunakan. Menggunakan rumah epoke dalam kehidupan sehari-hari, misalnya ada 2 orang yang baru saja jadian, maka masing masing harus bisa memasukkan yang lain kedalam rumah epoke atau jangan diperhatikan. Penggunaan yang lain masih banyak hal bisa dimasukkan kedalam rumah epoke. Apa yang menghambat masukkan kedalam rumah epoke bersama syaiton-syaiton yang membisiki kita sesuatu yang buruk.
Untuk menggapai ikhlas bukanlah sesuatu yang mudah, ikhlas itu bersumber dari pikiran yang jernih dan hati yang bersih. Mungkin itulah yang membuatnya sulit karena kita memang sulit menjernihkan pikiran dan membersihkan hati. Salah satu sifat yang sering ada dalam setiap diri manusia yang menjadikan diri sulit untuk ikhlas adalah riya’. Riya’ adalah niat melakukan sesuatu bukan karena Allah SWT, melainkan hal-hal lain yang lebih bersifat duniawi. Riya’ itu melepaskan keikhlasan. Lantas dengan hilangnya keikhlasan dalam melakukan suatu kegiatan, maka kita juga tidak akan mendapatkan apapun dari apa yang kita kerjakan tersebut. Bayangkan ketika niat pertama Lillahi ta’ala kemudian timbul rasa riya kepada orang yang kita segani, lantas apapun yang kita kerjakan berbeda dan lebih baik dari biasanya. Tentu hal itu hanya akan mendapatkan pujian dari manusia dan tidak akan mendapatkan apapun dari Allah yang akan membuat rugi diri kita sendiri.
Salah satu kunci dalam menggapai ikhlas adalah adanya rasa syukur yang besar terhadap apapun yang kita miliki sekarang, apapun yang diberika Allah saat ini. Banyak dari kita yang selalu melihat keatas dalam urusan dunia dan itu akan mengurangi rasa syukur kita karena kita pasti akan merasa kurang dan merasa rendah dibandingkan orang lain dalam urusan duniawi. Padahal akan lebih baik jika kita melihat keatas untuk urusan akherat dan melihat kebawah untuk urusan dunia. Memang sejatinya urusan dunia tidak boleh dikesampingkan karena kita hidup didunia sekarang. Namun kita juga harus ingat bahwa aka nada kehidupan yang lebih kekal dan lebih baik dari kehidupan dunia, yaitu kehidupan akherat. Untuk itu sebagai makhluk Allah SWT sudah seharusnya kita selalu bersyukur dan menerima apapun yang telah Allah berikan kepada kita. Harus diyakini bahwa Allah sudah memberikan yang terbaik bagi kita sekarang. Kalau kita bisa ikhlas dan selalu bersyukur maka Allah akan senantiasa memberikan kita nikmat yang lebih dari apa yang Allah berikan kepada kita sekarang.
Filasafat adalah semua aspek kehidupan, semua yang ada dalam hidup kita merupakan filsfat karena filsafat itu meliputi segala hal yang ada dan yang mungkin ada. Dengan mempelajari filsafat kita akan lebih tahu dalam bersikap dan kita harus paham bahwa sikap kita nanti yang akan mendefinisikan siapa kita dimata orang lain. Maka dari itu kita harus pandai dalam bersikap dan jangan sekali-kali menyombongkan diri karena Sang Pencipta membenci orang-orang yang sombong.

PENDIDIKAN DAN FILSAFAT


Idealis dalam pendidikan merupakan hal yang penting, namun idealis juga tidak bisa dilakukan secara semena-mena karena apaun yang kita lakukan harus sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Namun jika memeng masih bisa diterapkan tentu saja idealis harus tetap dilaksanakan. Seperti seorang pelajar, tugas utama mereka adalah belajar namun tentu saja ,mereka juga ingin bermain dan bergaul dengan teman sebayanya. Itu semua boleh dilakukan asalkan dengan porsi yang pas, jika tidak maka tugas utama yaitu belajar akan terkesampingkan. Idealisme adalah aliran filsafat yang menganggap bahwa pengetahuan adalah sesuatu yang muncul dan terlahir dari kejadian di dalam jiwa manusia. Kejadian tersebut bersumber dari transendensi kesadaran. Kenyataan dan pengenalan atas realitas terletak di luar konsepsi idealisme. Konsentrasi idealisme tertuju pada afirmasi terhadap ontologi kesadaran dan problem yang muncul di dalamnya. Konsep filsafat menurut aliran idealisme terdiri dari metafisika-idealisme, humanologi-idealisme, epistemologi-idealisme, dan aksiologi-idealisme.
Dalam konteks filsafat pendidikan, idealisme memberi sumbangsih yang besar. Kaum idealis percaya bahwa manusia merupakan bagian dari alam spiritual kesadaran. Setiap individu berkesadaran mempunyai potensi spiritual dan transendensi. Konsekuensinya, pendidikan dituntut dapat memperkenalkan konsep spiritual dan transendensi dalam kehidupan manusia. Pendidikan harus menenkankan kesesuaian batin antara manusia dengan alam semesta. Pendidikan merupakan pejalanan menuju pribadi manusia yang ideal. Pendidikan harus berorientasi pada tujuan, bukan hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan. Idealisme mengimpikan terciptanya manusia dengan watak terbaik.
Pragmatisme merupakan aliran filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar adalah segala sesuatu yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan melihat kepada akibat-akibat atau hasilnya yang bermanfaat secara praktis. Kebenaran objektif dari pengetahuan bukan sesuatu yang dianggappenting, namun bagaimana kegunaan praktis dari pengetahuan kepada individu-individu lah yang lebih penting. Dasar pragmatisme adalah logika pengamatan. Apa yang ditampilkan pada manusia dalam dunia nyata merupakan fakta-fakta individual, konkret, dan terpisah satu sama lain. Dunia ditampilkan apa adanya dan perbedaan diterima begitu saja. Pragmatisme tidak mau terjebak dalam kalimat-kalimat metafisika. Ide menjadi benar ketika memiliki fungsi pelayanan dan kegunaan.
Pragmatisme menggagas konsep pendidikan menjadi tiga, yaitu: konsep realitas, konsep pengetahuan, dan konsep nilai. Konsep realitas menyatakan bahwa, manusia sebagai makhluk fisik yang selalu mengalami perubahan dan perkembangan akan menyesuaikan dirinya dengan perubahan dan perkembangan realitas. Konsep pengetahuan menyatakan bahwa, tujuan berpikir adalah kemajuan hidup. Akal pikiran selalu aktif untuk mencari kebenaran yang terkandung dalam pengetahuan. Pengetahuan yang dianggap benar adalah pengetauan yan bermanfaat. Sementara konsep nilai menyatakan bahwa nilai merupakan suatu realitas dalam kehidupan yang dapat dimengerti sebagai wujud perilaku manusia. Nilai dianggap bersifat relatif. Suatu perilaku, pengetahuan, nilai, dan ide dikatakan benar bila mengandung kebaikan dan bermanfaat bagi manusia.
Pragmatisme pendidikan diorientasikan pada teori problem solving yang terdiri dari lima langkah: 1) Merasakan adanya masalah. 2) Menganalisis masalah dan menyusun hipotesis-hipotesis yang mungkin. 3) Mengumpulkan data untuk memperjelas masalah. 4) Memilih dan menganalisis hipotesis. 5) Menguji, mencoba, dan membuktikan hipotesis dengan melakukan eksperimen. Dengan demikian, pragmatisme pendidikan selalu memuat tujuan praktis yang mengandung kebermanfaat dan nilai guna pagi kehidupan. Segalanya yang tidak mengandung nilai guna disingkirkan dan dianggap tidak layak digolongkan dalam kurikulum pendidikan.
Tujuan filsafat pendidikan memberikan inspirasi bagaimana mengorganisasikan proses pembelajaran yang ideal. Teori pendidikan bertujuan menghasilkan pemikiran tentang kebijakan dan prinsip-rinsip pendidikan yang didasari oleh filsafat pendidikan. Praktik pendidikan atau proses pendidikan menerapkan serangkaian kegiatan berupa implementasi kurikulum dan interaksi antara guru dengan peserta didik guna mencapai tujuan pendidikan dengan menggunakan rambu-rambu dari teori-teori pendidikan. Peranan filsafat pendidikan memberikan inspirasi, yakni menyatakan tujuan pendidikan negara bagi masyarakat, memberikan arah yang jelas dan tepat dengan mengajukan pertanyaan tentang kebijakan pendidikan dan praktik di lapangan dengan menggunakan rambu-rambu dari teori pendidik. Seorang guru perlu menguasai konsep-konsep yang akan dikaji serta pedagogi atau ilmu dan seni mengajar materi subyek terkait, agar tidak terjadi salah konsep atau miskonsepsi pada diri peserta didik.

Pembelajaran Tematik


Dalam foto-foto yang ditunjukkan Pak Marsigit, dapat saya lihat bahwa pembelajaran yang dilakukan di salah satu Sekolah Dasar di Australia sangat berbeda dengan pembelajaran yang di lakukan di Indonesia. Di sana pembelajaran yang dilaksanakan adalah pembelajaran tematik. Salah satu Perguruan Tinggi di Australia mengajak langsung mahasiswanya untuk melakukan praktik mengajar di Sekolah Dasar tersebut. Praktik yang dilakukan seperti ketika mahasiswa PPL. Diawali dengan dosen pembimbing yang datang lebih dulu untuk mengetahui keadaan sekolah yang akan digunakan untuk pembelajaran mahasiswanya.  
Ruangan yang akan digunakan adalah perpustakaan sekolah. Perpustakaan sekolah di Sekolah Dasar ini termasuk perpustakaan yang baik. Buku, meja, kursi, dan perlengkapan lainnya ditata dengan rapi. Yang paling menarik adalah penataan buku, buku disana ditata sesuai tema dan jenis buku, jadi buku diletakkan dalam rak rak kecil yang bertuliskan tema dan jenis bukunya, sehingga siswa tidak terlalu sulit untuk mencari buku yang diinginkan. Selain itu, di beberapa sudut ruangan kita dapat menemukan kertas yang bertuliskan motivasi-motivasi yang dapat meningkatkan minat siswa untuk membaca. Ini merupakan salah satu cara memberikan pendidikan karakter kepada siswa sejak kecil.
Pendidikan karakter dapat dikenalkan dengan cara memperkenalkan tokoh-tokoh dalam bidang matematika seperti phytagoras. Dengan anak mengetahui tokoh tersebut diharapkan dapat lebih menyenangi pelajaran matematika. Selain itu anak juga diperkenalkan dengan buku-buku yang baru saja terbit dan buku-buku populer tahun ini. Hal ini diharapkan keinginan siswa untuk membaca buku semakin tinggi atau dapat membiasakan siswa untuk senang membaca buku.
Kembali pada mahasiswa yang akan praktik disekolah ini, sebelum mereka melaksanakan pembelajaran tentu saja mereka juga harus menyiapkan pemberangkat pembelajaran salah satunya adalah Lesson Plan atau biasa kita sebut RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). Dasar untuk membuat RPP adalah Jurnal Internasional dengan pembelajaran tematik. Selin RPP mahasiswa juga harus mempersiapkan alat-alat yang akan dibutuhkan dalam pembelajaran hari ini karena memang dalam pembelajaran tematik dibutuhkan alat peraga yang tidak sedikit. Setelah semua perangkat pembelajaran siap, mahasiswa dibagi kedalam kelompok kelompok kecil, kemudian ditentukan siapa yang akan mengajar pada hari itu, sedangkan anggota kelompok lain akan menjadi observer bersama dosen dan guru kelas.
Pembelajaran pun dimulai, untuk melaksanakan pembelajaran tidak harus diruang kelas karena beberapa tema pembelajaran mengaharuskan siswa untuk melakukan pembelajaran di luar kelas bahkan ada yang melakukan pembelajaran di tangga sekolah. Dari foto yang ditunjukkan Pak Marsigit dapat saya lihat bahwa pembelajaran dilakukan di berbagai tempat seperti di ruang kelas, perpustakaan sekolah, halaman sekolah dan ada pembelajaran dengan tema tertentu yaitu menerbangkan seperti baling-baling yang dilakukan di tangga sekolah. Anak-anak terlihat sangat antusias dalam melaksanakan pembelajaran.
Tema yang diajarkan oleh setiap mahasiswa berbeda-beda sesuai dengan materi yang disampaikan. Ketika pembelajaran berlangsung, mahasiswa lain dalam satu kelompok bertugas mengobservasi jalannya pembelajaran. Selain mahasiswa dosen dan guru kelas juga ikut mengobservasi, beberapa foto menampakkan dosen dan guru sedang berdiskusi terkalit praktik yang sedang dilaksanakan oleh mahasiswa yang sedang praktik. Agar setelah pembelajaran selesai dapat dilakukan refleksi. Peran guru kelas dalam menjadi observer sangat penting karena yang mengetahui karakteristik siswa adalah guru tersebut jadi ketika ada perubahab-perubahan sikap yang dilakukan siswa maka akan dapat diketahui. Selain itu hasil dari refleksi dapat digunakan sebagai acuan untuk mengajar pada pembelajaran selanjutnya.
Salah satu keunikan lain di Sekolah Dasar ini adalah ketika kita memasuki ruang kelas maka dindingnya sangat penuh dengan karya-karya siswa terkalit dengan pelajaran yang diberikan. Dengan memajang karya siswa, diharapkan siswa lebih antusias dalam mengerjakan tugas yang diberikan guru karena apa yang mereka kerjakan diberi reward yang bisa membuat mereka bangga akan hasil karya mereka sendiri. Hasil karya dan pekerjaan siswa tersebut jika dijadikan satu maka disebut portopolio. Selain karya siswa di dinding juga terdapat jadwal-jadwal terkait pembelajaran dan ada juga peraturan peraturan yang harus ditaati siswa di Sekolah. Peraturan lain yang nampak adalah peraturan berdiskusi, ini jika merupakan salah satu dari pendidikan karakter, yaitu bagaimana sikap siswa ketika berdiskusi agar mereka tidak sembarangan berdiskusi sehingga hasil dikusinya dapat maksimal. Itulah beberapa hal yang dapat saya ketahui dari pembelaran tematik di salah satu Sekolah Dasar yang di tunjukkan Pak Marsigit ketika berkunjung ke Australia.
Selain di Australia, ternyata Jepang juga melaksanakan pembelajaran tematik. Di sana bukan mahasiswa yang melakukan pembelajaran tetapi dosen dari sebuah Perguruan tinggi di sana atau mungkin guru kelas dan nanti peserta yang ingin melihat pembelajaran dapat menyaksikan di pinggir ruangan. Nampaknya siswa tidak terganggu dengan kehadiran para observer tersebut karena sudah terbiasa. Pembelajaran tematik di Jepang juga tidak jauh berbeda dengan yang dilaksanakan di Australia. Pengajar juga menggunakan alat peraga agar siswa dapat lebih memahami pelajaran yang diberikan. Selain diruang kelas, praktik pembelajaran ini juga dilaksanakan di gedung lain yang sangat besar karena ternyata banyak guru-guru dari manacanegara yang ingin mengetahui bagaimana pembelajaran tematik itu berlangsung. Rasa keingintahuan dan ingin belajar inilah yang harus terus dikembangkan, karena dengan belajarlah pendidikan akan semkin berkembang.

BELAJAR IKHLAS


Untuk menggapai ikhlas bukanlah sesuatu yang mudah, ikhlas itu bersumber dari pikiran yang jernih dan hati yang bersih. Mungkin itulah yang membuatnya sulit karena kita memang sulit menjernihkan pikiran dan membersihkan hati. Salah satu sifat yang sering ada dalam setiap diri manusia yang menjadikan diri sulit untuk ikhlas adalah riya’. Riya’ adalah niat melakukan sesuatu bukan karena Allah SWT, melainkan hal-hal lain yang lebih bersifat duniawi. Riya’ itu melepaskan keikhlasan. Lantas dengan hilangnya keikhlasan dalam melakukan suatu kegiatan, maka kita juga tidak akan mendapatkan apapun dari apa yang kita kerjakan tersebut. Bayangkan ketika niat pertama Lillahi ta’ala kemudian timbul rasa riya kepada orang yang kita segani, lantas apapun yang kita kerjakan berbeda dan lebih baik dari biasanya. Tentu hal itu hanya akan mendapatkan pujian dari manusia dan tidak akan mendapatkan apapun dari Allah yang akan membuat rugi diri kita sendiri.
Salah satu kunci dalam menggapai ikhlas adalah adanya rasa syukur yang besar terhadap apapun yang kita miliki sekarang, apapun yang diberika Allah saat ini. Banyak dari kita yang selalu melihat keatas dalam urusan dunia dan itu akan mengurangi rasa syukur kita karena kita pasti akan merasa kurang dan merasa rendah dibandingkan orang lain dalam urusan duniawi. Padahal akan lebih baik jika kita melihat keatas untuk urusan akherat dan melihat kebawah untuk urusan dunia. Memang sejatinya urusan dunia tidak boleh dikesampingkan karena kita hidup didunia sekarang. Namun kita juga harus ingat bahwa aka nada kehidupan yang lebih kekal dan lebih baik dari kehidupan dunia, yaitu kehidupan akherat. Untuk itu sebagai makhluk Allah SWT sudah seharusnya kita selalu bersyukur dan menerima apapun yang telah Allah berikan kepada kita. Harus diyakini bahwa Allah sudah memberikan yang terbaik bagi kita sekarang. Kalau kita bisa ikhlas dan selalu bersyukur maka Allah akan senantiasa memberikan kita nikmat yang lebih dari apa yang Allah berikan kepada kita sekarang.

RUMAH EPOKE


Rumah Epoke adalah adalah rumah bagi apapun yang tidak engkau pikirkan. Apa yang tidak terpikirkan, apa yang tidak ada dipikiran kita, dan apa yang tidak pernah kita pikirkan maka letaknya di rumah epoke. Dalam kita memikirkan sesuatu, apa yang tiba-tiba terlintas meskipun itu belum paernah kita pikirkan maka tidak bias kita masukkan kedalam rumah epoke. Apa yang kita menghambat, apa yang memperlambat, apa yang membuat kita lemah harusnya kita masukkan kedalam rumah epoke. Syaiton yang selalu membisiki kita dengan hal-hal yang buruk juga harus kita masukkan kedalam rumah epoke.
Dalam kehidupan spiritual itu adalah dimensi yang paling tinggi, dan akan diturunkan menjadi normatif, seperti penggunaan epoke dalam matematika. Dalam membangun gunung ilmu kita harus membangun gunung-gunung lain yang ada disekitar kita, agar gunung yang ilmu kita menjadi kokoh. Contoh pengunaan epoke dalam matematika, misalnya 5 biru ditambah 6 kuning jadilah 11 jingga, atau 8 kurus ditambah 8 gemuk sama dengan 16 biasa. Tidak begitu seharusnya dalam perhitungan. Dalam matematika sifat, warna, aroma suatu benda tidak disebutkan. Misal lagi aku tadi ketemu bilangan 2 dengan baunya harum, mungkin maksudnya bertemu dengan 2 orang yang baunya harum. Dalam memcarakan bilangan kita hanya melihat banyaknya sajam warna, sifat, dan aroma yang ada masukkanlah kedalam rumah epoke. Misal lagi 2 lebih besar dari 7, mungkin itu hanya tentang ukuran ketika menulis, tetapi dalam matematika sesungguhnya 7 lebih besar daripada 2, maka bahan dalam bilangan juga harus dimasukkan kedalam rumah epoke.
Misal lagi dalam bentuk matematika, aku mempunyai segitiga berumur 2 hari karena kitamembuatnya 2 hari yang lalu, tetapi sifat-sifat seperti itu dimasukkan saja kerumah epoke karena dalam pembelajaran hal-hal tidak digunakan.
Menggunakan rumah epoke dalam kehidupan sehari-hari, misalnya ada 2 orang yang baru saja jadian, maka masing masing harus bisa memasukkan yang lain kedalam rumah epoke atau jangan diperhatikan. Penggunaan yang lain masih banyak hal bisa dimasukkan kedalam rumah epoke. Apa yang menghambat masukkan kedalam rumah epoke bersama syaiton-syaiton yang membisiki kita sesuatu yang buruk.

FILSAFAT PLATO


Sebagaimana Sokrates, ia menggunakan metode dialog untuk mengantarkan falsafatnya. Namun, kebenaran umum (definisi) menurutnya bukan dibuat dengan cara dialog yang induktif sebagaimana metode yang digunakan Sokrates.
Pengertian umum (definisi) menurut Plato sudah tersedia di alam idea.
Menurut pemikiran falsafahnya, dunia lahir adalah dunia pengalaman yang selalu berubah-ubah dan berwarna-warni. Semua itu adalah bayangan daria dunia idea. Sebagai bayangan, hakikatnya hanyalah tiruan merupakan tiruan dari yang asli, yaitu idea. Oleh karena itu, dunia pengalman ini berubah-ubah dan bermacam-macam, sebab hanyalah merupakan tiruan yang tidak sempurna dari idea yang sifatnya bagi dunia pengalaman.
Barang-barang yang ada di dunia ini semua ada contohnya yang ideal di dunia idea.
Keadaan idea bertingkat-tingkat. Tingkat idea yang tertinggi adalah idea kebaikan, di bawahnya idea jiwa dunia, yang menggerakkan dunia.
Berikutnya dunia keindahan yang menimbulkan seni, ilmu, pendidikan, politik. 
plato dinobatkan sebagai pemikir idealisme karena seluruh filsafatnya bertumpu pada dunia ide. Plato percaya bahwa ide adalah realita yang sebenarnya dari segala sesuatu yang ada dan dapat dikenal oleh panca indera. Karena ide adalah realitas yang sebenarnya atau keberadaan ada yang sesungguhnya, maka bagi Plato ide bukanlah sekedar gagasan atau gambaran yang berada hampir di dalam pemikiran manuisa. 
Keberadaan idea tidak tampak dalam wujud lahiriah, tetapi gambaran yang asli hanya dapat dipotret oleh jiwa murni. Alam dalam pandangan idealisme adalah gambaran dari dunia idea, sebab posisinya tidak menetap. Sedangkan yang dimaksud dengan idea adalah hakikat murni dan asli. Keberadaannya sangat absolut dan kesempurnaannya sangat mutlak, tidak bisa dijangkau oleh material.
Pada kenyataannya, idea digambarkan dengan dunia yang tidak berbentuk demikian jiwa bertempat di dalam dunia yang tidak bertubuh yang dikatakan dunia idea. 
Menurut Plato esensi itu mempunyai realitas di alam idea itu sendiri, ini memperkuat pendapat gurunya Socrates. Lewat karangan mitosnya di dalam dialog “Politeia” menjelaskan bahwa gua adalah dunia yang dapat ditangkap oleh indera. Kebanyakan orang menjadi terbelenggu dan menerima pengalaman spontan begitu saja. Namun ada beberapa orang memperkirakan bahwa realitas inderawi hanyalah bayangan; mereka adalah filosof.
Untuk mencapai kebenaran yang sebenarnya manusia harus mampu melepaskan diri dari pengaruh indera yang menyesatkan, bahkan filosof pun tidak akan dipercayai orang. Contoh. Melalui akal budi, ide pohon itu dapat dipahami, sedang melakukan kesaksian indera, terdapat bermacam-macam jenis dan bentuk pohon. Di dunia ide, hanya dikenal ide tentang pohon (satu dan tetap), tetapi di dunia realitas terdapat perbedaan, perubahan dan perkembangan bermacam-macam jenis pohon. Demikian juga dengan manusia. Dalm dunia jasmani, dikenla bermacam-macam jenis manusia, tetapi di dunia ide hanya ada satu, yaitu ide tentang manusia. Manusia sebagai makhluk jasmani, pasti akan mati, dan karena itu musnah. Tetapi di dalm ide manusia akan tetap abadi. 

HEDONISM


Hedonism adalah gaya hidup yang serba glamour, mewah, lux, sudah banyak diburu oleh pencari kenikmataan sesaat. Segala yang dimiliki akan dikorbankan demi nafsu yang terus menggelora. Bagi mereka, dunia adalah segalanya. Sedangkan akhirat hanyalah impian kosong yang menjadi racun kenikmatan dunia. Inilah fenomena yang sangat menjamur di tengah-tegah panasnya kehidupan.
            Paham hedonisme sendiri berarti suatu pemikiran yang menjadikan tujuan hidupnya adalah kesenangan materi. Kesenangan yang memuaskan jiwa dan batin setiap manusia. Epicurus berpendapat bahwa kenikmatan materi adalah tujuan utama dalam hidup. Filsafatnya menitikberatkan pada etika yang memberikan ketenangan batin. Hedone (kenikmatan atau kesenangan) diperoleh dengan memuaskan keinginannya. Manusia harus bisa memilih keinginannya agar dapat mencapai kepuasan yang mendalam. Hedonisme yang hanya mencari kenikmatan materi demi kepuasan jiwa tidaklah sempurna sampai seseorang terjauh dari kehidupan spiritual yang dianggap mengekang manusias.
Filosof Aristippus mengatakan bahwa kesenangan merupakan rasa dari watak yang lemah lembut dan tujuan kehidupan yang sebenarnya. Semua kesenangan nilainya sama akan tetapi berbeda dalam tingkat lamanya. Sebenarnya, tokoh-tokoh filsafat yang mendukung hedonisme tidak sedikit. Akan tetapi, mereka berdualah yang paling vokal dalam menyampaikan ide-ide hedonisme sehingga menyebar ke seluruh penjuru dunia.
Inti dari pemikiran mereka adalah kenikmatan yang menjadi tujuan sejati dari kehidupan manusia. Kenikmatan tersebut haruslah membawa kepuasan jiwa dan batin seseorang. Tidak peduli apakah kenikmatan itu bertentangan dengan nilai-nilai moral dan agama atau tidak, yang pasti kenikmatan adalah segala-galanya.
Akar dari filsafat ini adalah keadaan setiap manusia yang memiliki nafsu dan penilaian mereka bahwa manusia adalah homo ludens (makhluk yang senantiasa bermain-main). Setiap manusia yang hidup dikaruniai nafsu. Nafsu itulah yang mendorong manusia untuk mencapai kepuasan. Dengan kata lain, keinginan manusia untuk mencapai kepuasan adalah hal yang wajar karena hal ini sudah menjadi bagian dari kehidupan. Menurut paham hedonisme, keberadaan nafsu tidak bisa dikendalikan dengan cara apapun. Oleh karena itu, menghalalkan segala cara untuk memuaskan nafsu adalah cara yang sah.
Jadi hedonisme tidak hanya sebuah gaya hidup yang serba bebas, melainkan sebagai pemikiran dan kepercayaan yang tentunya berakhir pada kehancuran nilai-nilai agama. Kesenangan yang ditawarkan dalam budaya hedonisme tidak lain bersifat fana dan menipu.
Apa yang kini dianggap modern belum tentu berbuah baik bagi kehidupan manusia. Narkoba, seks bebas, musik, korupsi, dan lain sebagainya adalah bagian dari beberapa tindak kriminal yang dilakukan karena hanya ingin mencari kenikmatan dan kesenangan.
Hedonisme selalu berakibat buruk bagi kehidupan manusia. Aspek aqidah, prilaku, sistem ekonomi, politik, sosial, dan kesehatan, akan menjadi hancur dan kacau akibat dampak dari gaya hidup yang egois ini.
Jadi hiduplah dengan gaya hidup yang benar, aqidah yang benar, dan yakin bahwa sesuatu yang nampaknya menyenangkan terkadang bukanlah hal yang benar.

Referensi : http://islamiahdakwah.blogspot.com/2009/05/muslim-bertanggung-jawab.html