Sebagaimana
Sokrates, ia menggunakan metode dialog untuk mengantarkan falsafatnya. Namun,
kebenaran umum (definisi) menurutnya bukan dibuat dengan cara dialog yang
induktif sebagaimana metode yang digunakan Sokrates.
Pengertian
umum (definisi) menurut Plato sudah tersedia di alam idea.
Menurut pemikiran falsafahnya, dunia lahir adalah dunia pengalaman yang selalu berubah-ubah dan berwarna-warni. Semua itu adalah bayangan daria dunia idea. Sebagai bayangan, hakikatnya hanyalah tiruan merupakan tiruan dari yang asli, yaitu idea. Oleh karena itu, dunia pengalman ini berubah-ubah dan bermacam-macam, sebab hanyalah merupakan tiruan yang tidak sempurna dari idea yang sifatnya bagi dunia pengalaman.
Menurut pemikiran falsafahnya, dunia lahir adalah dunia pengalaman yang selalu berubah-ubah dan berwarna-warni. Semua itu adalah bayangan daria dunia idea. Sebagai bayangan, hakikatnya hanyalah tiruan merupakan tiruan dari yang asli, yaitu idea. Oleh karena itu, dunia pengalman ini berubah-ubah dan bermacam-macam, sebab hanyalah merupakan tiruan yang tidak sempurna dari idea yang sifatnya bagi dunia pengalaman.
Barang-barang
yang ada di dunia ini semua ada contohnya yang ideal di dunia idea.
Keadaan idea bertingkat-tingkat. Tingkat idea yang tertinggi adalah idea kebaikan, di bawahnya idea jiwa dunia, yang menggerakkan dunia.
Keadaan idea bertingkat-tingkat. Tingkat idea yang tertinggi adalah idea kebaikan, di bawahnya idea jiwa dunia, yang menggerakkan dunia.
Berikutnya
dunia keindahan yang menimbulkan seni, ilmu, pendidikan, politik.
plato dinobatkan sebagai pemikir idealisme karena seluruh filsafatnya bertumpu pada dunia ide. Plato percaya bahwa ide adalah realita yang sebenarnya dari segala sesuatu yang ada dan dapat dikenal oleh panca indera. Karena ide adalah realitas yang sebenarnya atau keberadaan ada yang sesungguhnya, maka bagi Plato ide bukanlah sekedar gagasan atau gambaran yang berada hampir di dalam pemikiran manuisa.
Keberadaan idea tidak tampak dalam wujud lahiriah, tetapi gambaran yang asli hanya dapat dipotret oleh jiwa murni. Alam dalam pandangan idealisme adalah gambaran dari dunia idea, sebab posisinya tidak menetap. Sedangkan yang dimaksud dengan idea adalah hakikat murni dan asli. Keberadaannya sangat absolut dan kesempurnaannya sangat mutlak, tidak bisa dijangkau oleh material.
plato dinobatkan sebagai pemikir idealisme karena seluruh filsafatnya bertumpu pada dunia ide. Plato percaya bahwa ide adalah realita yang sebenarnya dari segala sesuatu yang ada dan dapat dikenal oleh panca indera. Karena ide adalah realitas yang sebenarnya atau keberadaan ada yang sesungguhnya, maka bagi Plato ide bukanlah sekedar gagasan atau gambaran yang berada hampir di dalam pemikiran manuisa.
Keberadaan idea tidak tampak dalam wujud lahiriah, tetapi gambaran yang asli hanya dapat dipotret oleh jiwa murni. Alam dalam pandangan idealisme adalah gambaran dari dunia idea, sebab posisinya tidak menetap. Sedangkan yang dimaksud dengan idea adalah hakikat murni dan asli. Keberadaannya sangat absolut dan kesempurnaannya sangat mutlak, tidak bisa dijangkau oleh material.
Pada
kenyataannya, idea digambarkan dengan dunia yang tidak berbentuk demikian jiwa
bertempat di dalam dunia yang tidak bertubuh yang dikatakan dunia idea.
Menurut Plato esensi itu mempunyai realitas di alam idea itu sendiri, ini memperkuat pendapat gurunya Socrates. Lewat karangan mitosnya di dalam dialog “Politeia” menjelaskan bahwa gua adalah dunia yang dapat ditangkap oleh indera. Kebanyakan orang menjadi terbelenggu dan menerima pengalaman spontan begitu saja. Namun ada beberapa orang memperkirakan bahwa realitas inderawi hanyalah bayangan; mereka adalah filosof.
Menurut Plato esensi itu mempunyai realitas di alam idea itu sendiri, ini memperkuat pendapat gurunya Socrates. Lewat karangan mitosnya di dalam dialog “Politeia” menjelaskan bahwa gua adalah dunia yang dapat ditangkap oleh indera. Kebanyakan orang menjadi terbelenggu dan menerima pengalaman spontan begitu saja. Namun ada beberapa orang memperkirakan bahwa realitas inderawi hanyalah bayangan; mereka adalah filosof.
Untuk
mencapai kebenaran yang sebenarnya manusia harus mampu melepaskan diri dari
pengaruh indera yang menyesatkan, bahkan filosof pun tidak akan dipercayai
orang. Contoh. Melalui akal budi,
ide pohon itu dapat dipahami, sedang melakukan kesaksian indera, terdapat
bermacam-macam jenis dan bentuk pohon. Di dunia ide, hanya dikenal ide tentang
pohon (satu dan tetap), tetapi di dunia realitas terdapat perbedaan, perubahan
dan perkembangan bermacam-macam jenis pohon. Demikian juga dengan manusia. Dalm
dunia jasmani, dikenla bermacam-macam jenis manusia, tetapi di dunia ide hanya ada
satu, yaitu ide tentang manusia. Manusia sebagai makhluk jasmani, pasti akan
mati, dan karena itu musnah. Tetapi di dalm ide manusia akan tetap abadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar