Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak pernah ngomong tentang
berfikir tapi otomatis kita selalu berpikir. Kita tidak perlu tiap hari
berbicara tentang filsafat tapi tiap hari kita berfilsafat. Kita tidak perlu
tiap hari berbicara tentang doa tapi tiap hari kita berdoa. Kegiatan kegitan
seperti itu memang sudah kita lakukan tanpa harus berfikir lagi kalau kita
melakukan itu.
Baik buruknya berfikir filsafat tergantung dari spiritual. Karena
ketika kita pemikiran dan hati kita terdapat sinkronisani, maka kita akan dapat
lebih baik dalam menentukan sikap. Dalam sehari hari kadang terdapat penyakit yang
mungkin timbul, misal penyakit hati. Penyakit hati ini dapat disembuhkan dengan
berdoa, yaitu adanya interaksi dengan Tuhan. Nah, kalau dalam berfilsafat,
penyakit dalam berfilsafat dapat diobati dengan berinteraksi dengan yang ada
dan yang mungkin ada. Segala penyakit itu pasti ada obatnya, dan untuk mencapai
kesembuhan selain butuh obat kita juga harus benar menyikapinya.Berfilsafat itu
berarti berpikir, tapi berpikir itu tidak berarti berfilsafat. Hal ini
disebabkan oleh berfilsafat berarti berpikir artinya dengan bermakna dalam arti
berpikir itu ada manfaat, makna, dan tujuannya, sehingga mudah untuk
direalisasikan dari berpikir itu karena sudah ada acuan dan tujuan yang
pasti/sudah ada planning dan contohnya, dan yang paling utama hasil dari berpikir
itu bermanfaat bagi orang banyak, tapi berpikir tidak berarti berfilsafat,
karena isi dari berpikir itu belum tentu bermakna atau mempunyai tujuan yang
jelas atau mungkin hanya khayalan saja.
Bersfikir filsafat itu adalah berfikir reflektif. Berfikir ilmiah
belum tentu berfikir filsifat. Namun berfikir filsafat itu meliputi pemikiran
yang ilmiah, bahkan pemikiran orang awam pun juga merupakan pemikiran yang
filsafat. Agar tidak bimbang dalam berfikir kita harus sering berdoa dan
mengingat Tuhan, jika bimbang dalam hati maka berhentilah berfikir dan
berdoalah, namun ketika bimbang dalam berfilsafat maka berfikirlah lebih jauh.
Kemampuan berfikir paling tinggi dalam filsafat adalah ketika seseorang mampu
mengambil keputusan. Gunanya berfilsafat itu adalah pengalaman kita itu
dipikirkan, dalam berfilsafat pemikiran yang ada untuk direfleksikan dalam
pengalaman, dan pengalaman yang ada untuk direfleksikan. Namun belum tentu
semua orang mampu berfikir dan merefleksikan dalam tindakan. Padahal
merefleksikan pengalaman dalam pikiran merupakan hal yang penting.
Dalam setiap kegiatan Merenung dalam berfilsafat jika diartikan
dalam kehidupan sehari-hari seperti berkaca, apapun yang kita lakukan
sesungguhnya kita sedang merenung. Ketika kita membaca, menulis, dan beraktifitas
kita sedang merenung. Setinggi tinggi kita merenung refleksi kita tidak akam
mampu mengungkapkannya secara menyeluruh. Berdoa itu juga merenung. Dalam
berfilsafat kita sering menembus ruang dan waktu, misalnya tidur itu juga
menembus ruang dan waktu karena kita sudah bertambah usia, bertambah usia
merupakan salah satu bentuk ruang dan waktu.
Amarah itu merupakan hal ada dan hal yang mungkin ada, amarah ada
diluar dan didalam hati dan fikiran kita. Namun kita harus bisa membedakan
amarah yang ada di dalam hati dan fikiran. Amarahlah didalam hati karena
Tuhanmu. Misal ada yang menghina nabi, kita wajib untuk marah tentu saja. Semua
yang ada dalam kehidupan punya tata cara tersendiri, punya peraturan sendiri,
agar duduk persoalnya jelas. Karena jika semua punya aturan maka hidup akan
terarah. Namun terkadang banyak orang mengabaikan hal itu, mengabaikan tata
cara yang ada, hingga hidup nampak tak punya aturan, terlihat berantakan, carut
marut, dan kurang terarah. Mentaati tata cara butuh kesadaran diri, kesadaran
untuk selalu taat peraturan. Seperti Negara kita yang punya tata cara, seperti
pancasila yang punya adab, yaitu di sila ke-2 yaitu Kemanusiaan yang adil dan
beradab. Setiap manusia sebenarnya bisa menciptakan tata cara sendiri dalam
kehidupannya, misalnya ketika kita mengajar, pasti kita juga punya aturan
tersendiri untuk murid kita, agar murid kita menjadi terarah dan sesuai apa
yang kita inginkan.
Dalam kehidupan kita harus senantiasa berusaha dan berdoa, kalo
kita hanya berdoa atau hanya berusaha saja maka apa yang kita inginkan belum
tentu tercapai. Tuhan berfirman bahwa tidak akan merubah kedaan suatu kaum jika
kaum itu tidak mengubah nasibnya. Semua yang ada dibumi ini butuh keseimbangan.
Doa ibarat putaran dalam diri kita dan dan ikhtiar merupakan putaran yang ada
dalam diri kita. Maka apapun itu berusahalah, berdoa, dan berikhtiar. Gunanya berfilsafat itu adalah pengalaman kita itu
dipikirkan, dalam berfilsafat pemikiran yang ada untuk direfleksikan dalam
pengalaman, dan pengalaman yang ada untuk direfleksikan. Namun belum tentu
semua orang mampu berfikir dan merefleksikan dalam tindakan. Padahal
merefleksikan pengalaman dalam pikiran merupakan hal yang penting.
Salah
satu gaya hidup yang banyak berkembang adalah hedonism. Hedonism adalah gaya hidup yang serba glamour, mewah, lux, sudah
banyak diburu oleh pencari kenikmataan sesaat. Segala yang dimiliki akan
dikorbankan demi nafsu yang terus menggelora. Bagi mereka, dunia adalah
segalanya. Sedangkan akhirat hanyalah impian kosong yang menjadi racun
kenikmatan dunia. Inilah fenomena yang sangat menjamur di tengah-tegah panasnya
kehidupan. Paham hedonisme sendiri berarti suatu pemikiran yang menjadikan
tujuan hidupnya adalah kesenangan materi. Kesenangan yang memuaskan jiwa dan
batin setiap manusia. Epicurus berpendapat bahwa kenikmatan materi adalah
tujuan utama dalam hidup. Filsafatnya menitikberatkan pada etika yang
memberikan ketenangan batin. Hedone (kenikmatan atau kesenangan) diperoleh
dengan memuaskan keinginannya. Manusia harus bisa memilih keinginannya agar
dapat mencapai kepuasan yang mendalam. Hedonisme yang hanya mencari kenikmatan
materi demi kepuasan jiwa tidaklah sempurna sampai seseorang terjauh dari
kehidupan spiritual yang dianggap mengekang manusias.
Filosof Aristippus mengatakan bahwa kesenangan merupakan rasa dari
watak yang lemah lembut dan tujuan kehidupan yang sebenarnya. Semua kesenangan
nilainya sama akan tetapi berbeda dalam tingkat lamanya. Sebenarnya,
tokoh-tokoh filsafat yang mendukung hedonisme tidak sedikit. Akan tetapi,
mereka berdualah yang paling vokal dalam menyampaikan ide-ide hedonisme
sehingga menyebar ke seluruh penjuru dunia. Inti dari pemikiran mereka adalah
kenikmatan yang menjadi tujuan sejati dari kehidupan manusia. Kenikmatan
tersebut haruslah membawa kepuasan jiwa dan batin seseorang. Tidak peduli
apakah kenikmatan itu bertentangan dengan nilai-nilai moral dan agama atau
tidak, yang pasti kenikmatan adalah segala-galanya.
Akar dari filsafat ini adalah keadaan setiap manusia yang memiliki
nafsu dan penilaian mereka bahwa manusia adalah homo ludens (makhluk yang
senantiasa bermain-main). Setiap manusia yang hidup dikaruniai nafsu. Nafsu
itulah yang mendorong manusia untuk mencapai kepuasan. Dengan kata lain,
keinginan manusia untuk mencapai kepuasan adalah hal yang wajar karena hal ini
sudah menjadi bagian dari kehidupan. Menurut paham hedonisme, keberadaan nafsu
tidak bisa dikendalikan dengan cara apapun. Oleh karena itu, menghalalkan
segala cara untuk memuaskan nafsu adalah cara yang sah.
Jadi hedonisme tidak hanya sebuah gaya hidup yang serba bebas,
melainkan sebagai pemikiran dan kepercayaan yang tentunya berakhir pada
kehancuran nilai-nilai agama. Kesenangan yang ditawarkan dalam budaya hedonisme
tidak lain bersifat fana dan menipu. Apa yang kini dianggap modern belum tentu
berbuah baik bagi kehidupan manusia. Narkoba, seks bebas, musik, korupsi, dan
lain sebagainya adalah bagian dari beberapa tindak kriminal yang dilakukan
karena hanya ingin mencari kenikmatan dan kesenangan. Hedonisme selalu berakibat
buruk bagi kehidupan manusia. Aspek aqidah, prilaku, sistem ekonomi, politik,
sosial, dan kesehatan, akan menjadi hancur dan kacau akibat dampak dari gaya
hidup yang egois ini. Jadi hiduplah dengan gaya hidup yang benar, aqidah yang
benar, dan yakin bahwa sesuatu yang nampaknya menyenangkan terkadang bukanlah
hal yang benar.
Banyak tokoh filsafat
yang mempunyai pendapat yang berbeda-beda pula. Sebagaimana Sokrates, ia
menggunakan metode dialog untuk mengantarkan falsafatnya. Namun, kebenaran umum
(definisi) menurutnya bukan dibuat dengan cara dialog yang induktif sebagaimana
metode yang digunakan Sokrates. Pengertian umum (definisi) menurut Plato sudah
tersedia di alam idea.
Menurut pemikiran falsafahnya, dunia lahir adalah dunia pengalaman yang selalu berubah-ubah dan berwarna-warni. Semua itu adalah bayangan daria dunia idea. Sebagai bayangan, hakikatnya hanyalah tiruan merupakan tiruan dari yang asli, yaitu idea. Oleh karena itu, dunia pengalman ini berubah-ubah dan bermacam-macam, sebab hanyalah merupakan tiruan yang tidak sempurna dari idea yang sifatnya bagi dunia pengalaman.
Menurut pemikiran falsafahnya, dunia lahir adalah dunia pengalaman yang selalu berubah-ubah dan berwarna-warni. Semua itu adalah bayangan daria dunia idea. Sebagai bayangan, hakikatnya hanyalah tiruan merupakan tiruan dari yang asli, yaitu idea. Oleh karena itu, dunia pengalman ini berubah-ubah dan bermacam-macam, sebab hanyalah merupakan tiruan yang tidak sempurna dari idea yang sifatnya bagi dunia pengalaman.
Barang-barang yang ada di dunia ini semua ada contohnya yang ideal
di dunia idea. Keadaan idea bertingkat-tingkat. Tingkat idea yang
tertinggi adalah idea kebaikan, di bawahnya idea jiwa dunia, yang menggerakkan
dunia.
Berikutnya dunia keindahan yang menimbulkan seni, ilmu,
pendidikan, politik. plato dinobatkan sebagai pemikir idealisme karena seluruh
filsafatnya bertumpu pada dunia ide. Plato percaya bahwa ide adalah realita
yang sebenarnya dari segala sesuatu yang ada dan dapat dikenal oleh panca
indera. Karena ide adalah realitas yang sebenarnya atau keberadaan ada yang
sesungguhnya, maka bagi Plato ide bukanlah sekedar gagasan atau gambaran yang
berada hampir di dalam pemikiran manuisa.
Keberadaan idea tidak tampak dalam wujud lahiriah, tetapi gambaran yang asli hanya dapat dipotret oleh jiwa murni. Alam dalam pandangan idealisme adalah gambaran dari dunia idea, sebab posisinya tidak menetap. Sedangkan yang dimaksud dengan idea adalah hakikat murni dan asli. Keberadaannya sangat absolut dan kesempurnaannya sangat mutlak, tidak bisa dijangkau oleh material.
Keberadaan idea tidak tampak dalam wujud lahiriah, tetapi gambaran yang asli hanya dapat dipotret oleh jiwa murni. Alam dalam pandangan idealisme adalah gambaran dari dunia idea, sebab posisinya tidak menetap. Sedangkan yang dimaksud dengan idea adalah hakikat murni dan asli. Keberadaannya sangat absolut dan kesempurnaannya sangat mutlak, tidak bisa dijangkau oleh material.
Pada kenyataannya, idea digambarkan dengan dunia yang tidak
berbentuk demikian jiwa bertempat di dalam dunia yang tidak bertubuh yang
dikatakan dunia idea. Menurut Plato esensi itu mempunyai realitas di alam idea itu
sendiri, ini memperkuat pendapat gurunya Socrates. Lewat karangan mitosnya di
dalam dialog “Politeia” menjelaskan bahwa gua adalah dunia yang dapat ditangkap
oleh indera. Kebanyakan orang menjadi terbelenggu dan menerima pengalaman
spontan begitu saja. Namun ada beberapa orang memperkirakan bahwa realitas
inderawi hanyalah bayangan; mereka adalah filosof.
Untuk mencapai kebenaran yang sebenarnya manusia harus mampu
melepaskan diri dari pengaruh indera yang menyesatkan, bahkan filosof pun tidak
akan dipercayai orang. Contoh. Melalui akal budi, ide pohon itu dapat dipahami, sedang
melakukan kesaksian indera, terdapat bermacam-macam jenis dan bentuk pohon. Di
dunia ide, hanya dikenal ide tentang pohon (satu dan tetap), tetapi di dunia
realitas terdapat perbedaan, perubahan dan perkembangan bermacam-macam jenis
pohon. Demikian juga dengan manusia. Dalm dunia jasmani, dikenla bermacam-macam
jenis manusia, tetapi di dunia ide hanya ada satu, yaitu ide tentang manusia.
Manusia sebagai makhluk jasmani, pasti akan mati, dan karena itu musnah. Tetapi
di dalm ide manusia akan tetap abadi.
Dalam
berfilsafat kita juga mengenal rumah epoke. Rumah Epoke adalah adalah rumah bagi apapun
yang tidak engkau pikirkan. Apa yang tidak terpikirkan, apa yang tidak ada
dipikiran kita, dan apa yang tidak pernah kita pikirkan maka letaknya di rumah
epoke. Dalam kita memikirkan sesuatu, apa yang tiba-tiba terlintas meskipun itu
belum paernah kita pikirkan maka tidak bias kita masukkan kedalam rumah epoke.
Apa yang kita menghambat, apa yang memperlambat, apa yang membuat kita lemah
harusnya kita masukkan kedalam rumah epoke. Syaiton yang selalu membisiki kita
dengan hal-hal yang buruk juga harus kita masukkan kedalam rumah epoke.
Dalam kehidupan spiritual itu adalah dimensi yang paling tinggi,
dan akan diturunkan menjadi normatif, seperti penggunaan epoke dalam
matematika. Dalam membangun gunung ilmu kita harus membangun gunung-gunung lain
yang ada disekitar kita, agar gunung yang ilmu kita menjadi kokoh. Contoh
pengunaan epoke dalam matematika, misalnya 5 biru ditambah 6 kuning jadilah 11
jingga, atau 8 kurus ditambah 8 gemuk sama dengan 16 biasa. Tidak begitu
seharusnya dalam perhitungan. Dalam matematika sifat, warna, aroma suatu benda
tidak disebutkan. Misal lagi aku tadi ketemu bilangan 2 dengan baunya harum,
mungkin maksudnya bertemu dengan 2 orang yang baunya harum. Dalam memcarakan
bilangan kita hanya melihat banyaknya sajam warna, sifat, dan aroma yang ada
masukkanlah kedalam rumah epoke. Misal lagi 2 lebih besar dari 7, mungkin itu
hanya tentang ukuran ketika menulis, tetapi dalam matematika sesungguhnya 7
lebih besar daripada 2, maka bahan dalam bilangan juga harus dimasukkan kedalam
rumah epoke.
Misal
lagi dalam bentuk matematika, aku mempunyai segitiga berumur 2 hari karena
kitamembuatnya 2 hari yang lalu, tetapi sifat-sifat seperti itu dimasukkan saja
kerumah epoke karena dalam pembelajaran hal-hal tidak digunakan. Menggunakan rumah
epoke dalam kehidupan sehari-hari, misalnya ada 2 orang yang baru saja jadian,
maka masing masing harus bisa memasukkan yang lain kedalam rumah epoke atau
jangan diperhatikan. Penggunaan yang lain masih banyak hal bisa dimasukkan
kedalam rumah epoke. Apa yang menghambat masukkan kedalam rumah epoke bersama
syaiton-syaiton yang membisiki kita sesuatu yang buruk.
Untuk
menggapai ikhlas bukanlah sesuatu yang mudah, ikhlas itu bersumber dari pikiran
yang jernih dan hati yang bersih. Mungkin itulah yang membuatnya sulit karena
kita memang sulit menjernihkan pikiran dan membersihkan hati. Salah satu sifat
yang sering ada dalam setiap diri manusia yang menjadikan diri sulit untuk
ikhlas adalah riya’. Riya’ adalah niat melakukan sesuatu bukan karena Allah
SWT, melainkan hal-hal lain yang lebih bersifat duniawi. Riya’ itu melepaskan
keikhlasan. Lantas dengan hilangnya keikhlasan dalam melakukan suatu kegiatan,
maka kita juga tidak akan mendapatkan apapun dari apa yang kita kerjakan
tersebut. Bayangkan ketika niat pertama Lillahi ta’ala kemudian timbul rasa
riya kepada orang yang kita segani, lantas apapun yang kita kerjakan berbeda
dan lebih baik dari biasanya. Tentu hal itu hanya akan mendapatkan pujian dari
manusia dan tidak akan mendapatkan apapun dari Allah yang akan membuat rugi
diri kita sendiri.
Salah
satu kunci dalam menggapai ikhlas adalah adanya rasa syukur yang besar terhadap
apapun yang kita miliki sekarang, apapun yang diberika Allah saat ini. Banyak
dari kita yang selalu melihat keatas dalam urusan dunia dan itu akan mengurangi
rasa syukur kita karena kita pasti akan merasa kurang dan merasa rendah
dibandingkan orang lain dalam urusan duniawi. Padahal akan lebih baik jika kita
melihat keatas untuk urusan akherat dan melihat kebawah untuk urusan dunia. Memang
sejatinya urusan dunia tidak boleh dikesampingkan karena kita hidup didunia
sekarang. Namun kita juga harus ingat bahwa aka nada kehidupan yang lebih kekal
dan lebih baik dari kehidupan dunia, yaitu kehidupan akherat. Untuk itu sebagai
makhluk Allah SWT sudah seharusnya kita selalu bersyukur dan menerima apapun
yang telah Allah berikan kepada kita. Harus diyakini bahwa Allah sudah
memberikan yang terbaik bagi kita sekarang. Kalau kita bisa ikhlas dan selalu
bersyukur maka Allah akan senantiasa memberikan kita nikmat yang lebih dari apa
yang Allah berikan kepada kita sekarang.
Filasafat
adalah semua aspek kehidupan, semua yang ada dalam hidup kita merupakan filsfat
karena filsafat itu meliputi segala hal yang ada dan yang mungkin ada. Dengan
mempelajari filsafat kita akan lebih tahu dalam bersikap dan kita harus paham
bahwa sikap kita nanti yang akan mendefinisikan siapa kita dimata orang lain.
Maka dari itu kita harus pandai dalam bersikap dan jangan sekali-kali
menyombongkan diri karena Sang Pencipta membenci orang-orang yang sombong.